Sistem perlintasan di perbatasan Inggris menghadapi kemarahan para pelintas yang terhambat akibat kesalahan sistem (2)

Profesor Peter Dawson menghubungi the Guardian setelah ia mengalami masalah yang sama selama lebih dari tiga tahun. Saat itu ada seorang anggota parlemen yang mewakili wilayahnya menghubungi Theresa May yang saat itu masih menjadi Sekretaris Dalam Negeri, anggota parlemen tersebut diberitahu bahwa tidak ada yang dapat dilakukan terkait masalah ini. Seorang petugas Pengamanan Perbatasan mengatakan bahwa sistem tersebut “tidak terlalu jelas”. 

Terkadang petugas Pengamanan Perbatasan tidak bersedia memberikan jawaban apapun saat pelintas yang tidak melakukan kesalahan apapun menanyakan mengapa ia dihentikan berkali-kali saat melintas di Gerbang Elektronik. Di lain waktu petugas terkadang memberikan sedikit informasi kepada mereka terkait penolakan tersebut.

Seorang profesor lainnya, David Wilson dari Universitas Terbuka, diberitahu oleh seorang petugas Pengamanan Perbatasan: “Tidak ada yang salah dengan paspor anda. Saya sebenarnya tidak diperkenankan memberitahukan informasi ini, akan tetapi nama anda ada dalam daftar kami, itulah mengapa anda harus diperiksa setiap melintas.”

Petugas itu menambahkan, meskipun Wilson mendapatkan paspor baru: “Nama anda tetap berada dalam daftar kami”. Seorang petugas lainnya mengatakan kepada Wilson: “Nama anda kebetulan sama dengan orang yang ingin kami ajak bicara”.

Wilson mengatakan bahwa sistem tersebut “tidak sesuai dengan tujuannya”.

Seorang petugas Pengamanan Perbatasan menyampaikan kepada seorang pelintas bahwa satu-satunya cara menghindari hal tersebut adalah dengan mengubah namanya. Petugas lain mengatakan bahwa seseorang yang memiliki nama yang sama dengannya itu adalah “seorang yang sangat berbahaya”. Petugas ketiga mengatakan kepada pelintas tersebut bahwa hal ini akan terus terjadi, akan tetapi petugas itu tidak diperkenankan mengatakan alasan pemeriksaan yang dilakukan dan sebagai pelintas dia tidak dapat berbuat apapun untuk menghindari masalah itu.

Daniel Baker juga selalu mengalami hal yang sama. Dia tinggal di Paris dan biasa melakukan perjalanan ke rumahnya di Doncester, Inggris, sepuluh kali dalam setahun. Dia tidak memiliki catatan kriminal, tetapi selalu diberhentikan setiap kali melintasi perbatasan. Kejadian ini berlangsung sejak dua atau tiga tahun belakangan.

“Pertama kali saya diberhentikan, petugas mengatakan bahwa mereka mencari seseorang dengan nama yang sama dengan saya sehingga saya akan ditandai sampai orang tersebut ditemukan. Saya telah menghubungi anggota parlemen yang mewakili wilayah saya dan memintanya untuk mengangkat masalah ini kepada Departemen Dalam Negeri,” katanya.

Hillary Reader, seorang pelintas lain yang juga mengalami kejadian yang sama berulangkali, baik di bandara maupun pelabuhan laut, mengatakan: “Saat ini sistem bisa - dan sudah seharusnya - jauh lebih canggih.”

Seorang juru bicara Departemen Dalam Negeri mengatakan: “Prioritas dalam Pengamanan Perbatasan adalah menjaga keamanan di perbatasan di setiap waktu, sehigga tidaklah tepat jika mengatakan bahwa pengecekan hanya dilakukan berdasarkan nama. Semua yang tiba di Inggris akan diperiksa dan dilakukan pengecekan melalui pusat data Departemen Dalam Negeri menggunakan informasi biografi dan kemanan”.

“Gerbang Paspor Elektronik berfungsi dengan menggunakan teknologi pengenalan wajah, serta pengecekan biografi dan keamanan. Terdapat beberapa alasan teknis dan keamanan mengapa sebuah paspor bisa gagal saat melintasi gerbang pengamanan perbatasan.”

 

Sumber artikel: www.theguardian.com

Judul asli: Border control systems face fire from travellers wrongly delayed

Penerjemah: Yanos/Humas Ditjenim

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 0.00 (0 Votes)