Kritik terhadap visa usaha rintisan Inggris setelah hanya 2 pemohon yang berhasil dalam 3 bulan

Robert Wright, London, 15 Oktober 2019

Skema visa baru yang bertujuan untuk mendorong para wirausahawan dari luar negeri untuk menetap di Inggris telah dikritik karena dinilai terlalu ketat setelah diketahui hanya dua orang pemohon yang berhasil dari segelintir pemohon dalam tiga bulan pertama sejak diperkenalkan.

Visa “inovator” adalah satu dari dua kelas visa baru yang diperkenalkan pada 1 April sebagai bagian dari serangkaian usaha yang dilakukan pemerintah untuk menunjukkan bahwa Inggris terbuka bagi para wirausahawan luar negeri berbakat. Hal ini untuk mengantisipasi rencana berakhirnya ‘pergerakan bebas’ warga negara Uni Eropa yang akan masuk ke wilayah Inggris sebagai bagian dari Brexit.

Akan tetapi Kantor Urusan Dalam Negeri Inggris juga dengan tegas memberikan aturan yang lebih ketat dibanding sebelumnya, dengan alasan cenderung untuk disalahgunakan. Sajid Javid, Sekretaris Dalam Negeri, saat mengumumkan tentang perubahan aturan keimigrasian tahun lalu dia mengatakan bahwa skema baru tersebut akan “memperluas cakupan pemohon dari para wirausahawan yang berbakat”.

Hanya ada dua pemohon yang berhasil mendapatkan visa “inovator” dalam periode 1 April – 30 Juni, triwulan pertama pelaksanaan skema baru tersebut, dari hanya empat permohonan, menurut data Kantor Urusan Dalam Negeri  yang dipublikasikan oleh Kantor Statistik Nasional. Di dalam aturan tersebut, pemohon harus mampu meyakinkan para ahli bisnis yang terkait dengan bisnis yang akan dibangun sebagai bisnis yang benar-benar inovatif di Inggris.

Visa terbaru itu menggantikan visa ”wirausahawan tingkat 1” yang sudah dihentikan. Kantor Urusan Dalam Negeri menyampaikannya saat menumumkan rencana tersebut pada bulan Maret, menunjukkan bahwa pemerintah “berkomitmen untuk menarik orang-orang yang berbakat”.

Selanjutnya terdapat 23 orang yang berhasil mendapatkan visa baru tersebut, visa “usaha rintisan”, yang menggantikan visa “wirausahawan lulusan universitas tingkat 1”, dari total 32 permohonan di kuartal pertama.

Nadine Goldfoot, seorang pengacara di Fragomen, sebuah firma hukum spesialis bidang keimigrasian, mengatakan bahwa salah satu permasalahan dalam visa inovator adalah “badan pendukung” yang dimaksudkan untuk memeriksa ide-ide yang para pemohon, tidak diberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan program mereka.

Dalam jangka panjang, dia mengatakan, menjadi masalah ketika pemerintah bersikeras bahwa suatu ide harus “inovatif” dan hampir seluruh “badan pendukung” terfokus pada industri teknologi digital.

“Kami berbicara dengan para wirausahawan sukses yang ingin mendirikan usaha di Inggris,” kata Goldfoot. “Mereka memiliki  perencanaan usaha dan uang untuk diinvestasikan. Namun, usaha mereka tidak sepenuhnya fokus kepada teknologi, sehingga sulit bagi mereka mendapatkan dukungan dari badan-badan tersebut sebagaimana seharusnya.

Jumlah pemohon yang disetujui dalam sistem baru lebih rendah dibandingkan visa yang lama. Sepanjang tahun lalu, pemerintah menyetujui 1.403 permohonan visa “wirausahawan tingkat 1”, dan 282 orang diberikan visa “wirausahawan lulusan universitas tingkat 1”.

Kantor Urusan Dalam Negeri membela skema baru tersebut dan mengatakan bahwa sedikitnya jumlah penerima visa tersebut “bukan hal aneh” dan sejalan dengan kinerja awal skema visa sebelumnya yang secara bertahap menjadi semakin populer.

Dalam tiga bulan pertama setelah peluncuran skema visa “wirausahawan” sebelumnya, hanya enam yang disetujui, sementara untuk program “wirausahawan luusan universitas” tidak ada sama sekali, menurut Kantor tersebut.

 

Sumber artikel: www.ft.com

Judul asli: Criticism for new UK entrepreneurs visa after 2 granted in 3 months

Penerjemah: Yanos/Humas Ditjenim

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 0.00 (0 Votes)