Awal yang lambat bagi skema visa kerja Jepang yang baru (1)

Pekerja Indonesia sedang memproses pipa tembaga di pabrik Nakamoto Mfg di Oizumi, Jepang. (Kazuhiro NOGI/AFP/Getty Images)

 

Editorial The Japan Times, www.japantimes.co.jp, 15 Desember 2019

Jumlah pemohon yang berhasil mendapatkan status visa kerja Jepang baru yang diluncurkan di bulan April untuk memperluas kesempatan bagi para pekerja asing untuk bekerja di Jepang ternyata jauh di bawah harapan. Pemerintah Jepang telah mengantisipasi sebanyak 47.500 pekerja asing dari luar negeri di tahun pertama program tersebut yang didisain untuk mengatasi parahnya kekurangan tenaga kerja di dalam negeri, tetapi kenyataannya pemohon yang menerima visa baru tersebut sampai saat ini hanya 2 sampai 3 persen dari jumlah yang diharapkan.

Kondisi ini sebagian disebabkan karena tertundanya tes bahasa Jepang dan uji keahlian pekerjaan yang kedua ujian tersebut dibutuhkan untuk mereka yang mengajukan posisi itu. Hal ini merupakan akibat dari tidak cukupnya waktu dalam mempersiapkan sistem baru, yang disiapkan secara mendadak mengikuti terbitnya amandemen terhadap undang-undang keimigrasian di tahun sebelumnya. Minat terhadap sistem baru ini di kalangan para pemberi pekerjaan yang masih kekurangan tenaga kerja juga masih tergolong lambat, karena pemerintah sampai saat ini masih menjalankan Program Pelatihan Peserta Magang Bidang Teknik, yang secara tidak langsung menjadi sumber tenaga kerja asing murah, tetap berlangsung walau diterpa berbagai isu pelanggaran ketenagakerjaan termasuk upah rendah yang tidak sesuai bahkan sampai yang tidak terbayarkan. Untuk memuluskan dan mengembangkan sistem baru ini sekaligus menarik bagi orang dari luar negeri untuk bekerja di Jepang, program magang seharusnya dirombak dan dibatasi sesuai dengan tujuan asalnya atau dihentikan sama sekali.

Status visa baru bagi para pekerja asing merupakan perubahan besar dalam kebijakan keimigrasian Jepang, yang sebelumnya hanya memfasilitasi tenaga kerja asing profesional dengan tingkat keahlian tinggi, menjadi menerima pekerja asing dalam  posisi pekerja biasa di 14 sektor industri, seiring meningkatnya kekurangan tenaga kerja yang semakin parah di tengah cepatnya populasi yang semakin menua dan berkurang. Pemerintah mengantisipasi masuknya 345.000 pekerja asing di lima tahun pertama program ini.

Bagi mereka yang berhasil lulus dalam ujian bahasa Jepang dan ujian keahlian di setiap sektor dapat bekerja di Jepang hingga lima tahun, sementara para pekerja yang menyelesaikan ujian keahlian yang lebih tinggi dapat memperbarui visa mereka dan membawa serta keluarganya ke Jepang. Kemudian bagi mereka yang telah menjalani setidaknya tiga tahun sebagai peserta magang bidang teknik dapat mempeoleh visa baru tersebut tanpa melalui ujian.

Sejak sistem baru tersebut diluncurkan beberapa bulan setelah amandemen undang-undang keimigrasian, banyak dari sektor-sektor yang membutuhkan pekerja asing tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan ujian bagi para pekerja asing. Pada akhir November, ujian akhirnya hanya diadakan di 8 dari 14 sektor yang dibuka, dan perlu waktu untuk memproses dokumen para pemohon visa. Kesepakatan pemberangkatan para pekerja dari negara asalnya pada akhirnya juga mengalami keterlambatan dari jadwal semula.

Bersambung...

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Rating 0.00 (0 Votes)